Kenangan Bersama Panutan


Bang Radzie (paling depan, menghadap kamera) saat meliput simulasi pencoblosan bagi penyandang disabilitas di Hotel Lading, 9 November 2016. Foto: Syahrial

Saya baru mengenal Fakhurradzie Gade medio 2014. Saat itu saya mendaftar ke Muharram Journalism Collage (MJC) melalui jalur undangan dari Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Sumberpost UIN Ar-Raniry.

Usai tes wawancara, Rayful Mudassir, Pemimpin Redaksi Sumberpost waktu itu menanyakan siapa yang tes. "Bang Radzie ya?" tanya dia. Saya menggeleng. Waktu itu, saya belum mengenal seorang pun dari empat orang yang mewawancarai saya.

Bang Rayful kemudian memberitahu saya kalau Bang Radzie alumni Fakultas Dakwah di IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry. Hubungan emosional Bang Radzie dengan Sumberpost juga dekat. Ia juga sering mengisi pelatihan dan diskusi jurnalistik bersama mahasiswa.

Saat masuk materi straight news di MJC, barulah saya tahu wajah Bang Radzie. Setelahnya, beliau kerap memberi masukan pada setiap tulisan saya. Selain di MJC, saya beberapa kali bertemu Bang Radzie ketika liputan.

Memang tidak banyak kenangan antara saya dan Bang Radzie. Sebagai seorang guru, saya memperoleh banyak ilmu darinya. Bahkan materi yang diberikan Bang Radzie pada 2014 lalu hingga kini masih saya simpan di laptop.

Juli 2016, Forum Alumni MJC menggelar silaturrahmi di Kuta Alam Kupi, Banda Aceh. Di sana berkumpul puluhan alumni, termasuk Bang Radzie. Silaturrahmi berlangsung hangat dan penuh tawa.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, saya terkejut ketika bangun tidur melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Bang Radzie di telepon saya. Saya langsung menghubunginya balik.

"Nyo lon Radzie (Ini saya Radzie)," ujarnya memperkenalkan diri.

"Nyo bg, na lon save nomor droneuh (Iya bang, ada saya simpan nomor abang)."

Bang Radzie menawari saya bekerja di Media Center Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh. Tugasnya membuat berita. Ia juga menyuruh saya berpikir matang-matang sebelum membuat keputusan, agar tidak menyesal nanti.

Dua hari kemudian saya mengirimi satu pesan singkat kepada Bang Radzie, memberitahunya saya menerima tawaran bekerja di Media Center KIP Aceh. Saya, Bang Radzie, Bang Adi Warsidi, Bang Zahrul, dan Aprizal Rachmad kemudian bekerja sama sebagai satu tim di media center KIP.

Semenjak hari pertama kerja pada 1 Agustus, saya dan Bang Radzie sering bertemu karena satu tempat kerja. Kendati begitu, pembicaraan kami tidak banyak ke arah materi pekerjaan.

Darinya, saya tahu situs nonton streaming film Indonesia, rumah makan yang nyaman, nomor telepon jasa kurir yang digunakan Bang Radzie untuk pesan bakso, tips bangun tidur cepat, hingga fakta dibalik beberapa peristiwa yang terjadi di Aceh.

Bang Radzie juga punya cara ketika menerima telepon salah alamat. Suatu ketika di media center ia mengangkat panggilan di telepon.

"Nyo so (Ini siapa?)" Setelah beberapa saat diam, ia kembali bertanya, "lon so (saya siapa?)"

"Oo, salah sambung bang," ujarnya kemudian setelah mendengar jawaban lawan bicara.

Darinya juga saya dapat banyak ilmu, khususnya dalam bahasa Jurnalistik, sudut pandang berita, dan menentukan lead berita.

Tak banyak hal serius yang kami obrolkan, karena memang kebanyakan bercanda. Entahlah, karena ketika berbicara hal serius pun, Bang Radzie tetap tertawa. Yang paling serius mungkin tentang saya yang selalu telat bangun pagi. Di beberapa liputan pagi, saya sampai di telepon Bang Adi Warsidi untuk memastikan saya bangun dan pergi liputan.

Bang Radzie menyarankan saya memasang tiga kali alarm pagi di HP dan membuat jarak antara tempat saya tidur dan HP, sehingga ketika alarm berbunyi saya harus berjalan untuk matikan alarm di HP.

"Kalau HP ditaruh di dekat bantal ya mudah kali di matikan. Tinggal sentuh aja," kata Bang Radzie dalam bahasa Aceh sambil tertawa.

Kendati Bang Radzie memiliki reputasi dan kemampuan hebat, ia tak sungkan bersenda gurau dengan siapa saja. Dari sikap dan tingkah lakunya sehari-hari saya juga banyak belajar. Ia benar-benar seperti kata pepatah tentang padi, semakin berisi semakin merunduk.

Saya kembali terlambat datang ke lokasi liputan pada 9 November di Hotel Lading, Banda Aceh. Begitu sampai, saya lihat Bang Radzie duduk di samping Bang Hendra Fauzi, Komisioner KIP Aceh.

"Hobi kali telat si Hadi ni," kata Bang Yudi melihat saya. Kemudian Bang Rayful ikut meledek. Saya merasa tak enak hati dengan Bang Radzie. Saya kemudian dipanggil Bang Radzie, diminta buat berita tentang simulasi Pilkada yang dibuat penyandang disabilitas.

Siang harinya, saya merasa tak enak badan. Usai liputan, langsung pulang dan tidur.

Kamis, 10 November pagi, saya minta izin untuk tidak liputan deklarasi damai di Mapolda Aceh karena badan panas. Saya mengabari Bang Radzie tentang kesehatan saya. "Beubagah puleh," doa Bang Radzie melalui pesan WhatsApp.

Saya membaca pesan itu sekitar dua jam kemudian. Saya menyesal tidak membalas pesan itu, setidaknya mengucapkan terima kasih. Saya menyesal karena tidak mengetahui kalau Bang Radzie hari itu sedang sakit. Di samping itu saya juga terharu karena Bang Radzie mendoakan saya disaat ia sendiri sedang sakit.

Jumat, 11 November malam, saya mendengar kabar duka tentang Bang Radzie dari Aprizal. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Di bawah cahaya rembulan, kami melaju ke Rumah Sakit Pertamedika, Banda Aceh. Tapi kami tak sempat melihat jasad Bang Radzie, karena ketika kami tiba, ia sudah dalam perjalanan menuju Keumala, Pidie.

Saya merasa kehilangan. Kehilangan referensi, kehilangan seseorang yang saya banggakan, kehilangan Bang Radzie yang matanya teduh. Saat bekerja, Bang Radzie selalu memakai sepatu dan baju berkerah. Ia juga biasa datang sebelum suatu kegiatan dimulai.

Besoknya, Sabtu, saya kembali pulang ke rumah waktu dinihari. Saya takjub melihat bulan purnama di langit sana. Dia bersinar terang, memberi ketentraman dan rasa damai. Ah.. ini indah. Saya cukup menikmati bulan malam itu. Seperti saya menikmati masa-masa bersama Bang Radzie.

Cukup banyak yang merasa kehilangan atas kepergian Bang Radzie. Mereka ramai menceritakan memori tentangnya di media sosial. Yang saya tulis ini, juga bagian dari itu.

Tidak hanya menulis di media sosial, tapi tindakan nyata juga dilakukan orang-orang untuk Bang Radzie. Lihat saja solidaritas wartawan pada Senin 14 November 2016, hujan tiba-tiba deras di sore hari. Menjelang magrib, awan hitam tebal nampak di langit. Menandakan hujan kembali turun sebentar lagi. Tapi puluhan wartawan tetap ke Sekretariat AJI Banda Aceh, untuk samadiah mendoakan Bang Radzie.

Rabu 17 November malam. Gerimis sempat turun usai magrib. Tapi kami tetap berkumpul di Sekretariat Bersama jurnalis Banda Aceh untuk tahlilan. Untukmu, Bang Radzie.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram